Manfaat Pupuk Organik Dan Kompos



Seperti kita ketahui bersama fungsi dan peran pupuk bagi tanaman teramat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan baik itu jenis tanaman pangan, hortikultura maupun tanaman perkebunan. Pupuk mengambil peranan penting dalam teknologi budidaya terutama dalam komponen pemeliharaan sebagai upaya peningkatan produktivitas hasil budidaya.Namun keberadaannya terbatas acapkali sering dikeluhkan petani terlebih dengan harga yang cukup mahal. Pembuatan pupuk kompos dapat menjadi alternatif terbaik untuk menghadapi permasalahan tersebut,hal ini karena komponen bahan pembuat pupuk kompos mudah didapat dan relatif murah. 


Oleh karena itu pada kesempatan kali ini, saya mencoba memberikan informasi mengenai cara pembuatan pupuk kompos dengan dekomposer, sehingga sahabat petani dapat membuat sendiri dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada disekitarnya.


Sekilas Info Pupuk Organik


Dilansir dari peluang Bisnis Eco Farming, pupuk organik Adalah pupuk yang berasal dari alam berupa sisa-sisa organisme hidup baik sisa Tanaman maupun sisa Hewan yang mengandung unsur-unsur hara baik makro maupun mikro yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk organik itu sendiri dapat terbuat dari bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, diombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur-usur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air.


Pupuk Kompos


Merupakan bahan-bahan organik yang telah mengalami pelapukan antara lain seperti; jerami, alang-alang, sekam padi, dan lain-lain termasuk Kotoran Hewan. Kandungan kompos matang terdiri dari 1.69% N, 0.34% P2O5, dan 2.81% K,sehingga dalam 100 kg kompos setara dengan 1.69 kg Urea, 0.34 kg SP 36, dan 2.18 kg KCl. Dimana untuk pemupukan tanaman padi dibutuhkan unsur hara sebanyak 200 kg Urea/ha, 75 kg SP 36/ha dan 37.5 kg KCl/ha, oleh karena itu persentase kebutuhan pupuk kompos sebanyak 22 ton/ha.


Terdapat beberapa syarat diperhatikan mengenai tempat pembuatan kompos antara lain:

Tempat pembuatan kompos diusahakan berada lebih tinggi dari sekitarnya agar saat hujan tidak tergenang.

Terdapat atap atau naungan sehingga tidak terkena sinar matahari langsung atau hujan.

Memanfaatkan kotoran ternak dan sisa-sisa pakan untuk dijadikan pupuk organik melalui proses pengomposan


Terdapat berbagai macam keuntungan dalam pengomposan antara lain :


Kondisi kandang menjadi lebih bersih.

Kotoran yang  dikumpulkan mengurangi pencemaran lingkungan.

Mengurangi populasi dari keberadaan lalat di sekitar kandang.

Mengurangi terjadinya infeksi cacing mata (Thelazia) yang sering menyerang ternak,

Pembuatan kompos dapat dilakukan secara alamiah atau menggunakan dekomposer,

Pupuk kompos telah matang dapat digunakan pada setiap pembudidayaan pertanian dan bernilai jual.


Tahapan Pembuatan Pupuk Kompos Dengan Dekomposer


Bahan yang diperlukan :


    Kotoran sapi : 80 – 83%

    Serbuk gergaji : 5%

    Abu sekam : 10%

    Kalsit atau Kapur : 2%

    Dekomposer (Stardec) : 0,25%


Proses Pembuatan


Kotoran sapi berupa feses dan urin dikumpulkan dan ditiriskan selama satu minggu untuk mengurangi kadar airnya (± 60%).

Kotoran sapi yang sudah ditiriskan tersebut kemudian dipindahkan ke petak pertama dan di tempat tersebut dilakukan pencampuran bahan bahan organik seperti ampas gergaji, abu sekam, kapur dan dekomposer (stardec).

Sebelum bahan-bahan organik dan dekomposer dicampurkan pada kotoran sapi, sebaiknya keempat bahan organik tersebut (ampas gergaji, abu sekam, kapur dan stardec) dicampur terlebih dahulu, agar campuran merata. Setelah bahan tercampur secara merata pada kotoran sapi yang telah disiapkan pada tempat pertama Untuk setiap 1 ton (1000 kg) kotoran ternak maka bahan organik yang dicampurkan adalah : 50 kg serbuk gergaji, 100 kg abu sekam, 20 kg kapur dan 2,5 kg stardec.

Setelah seminggu dilakukan pembalikan dan dipindahkan ke lokasi kedua dibiarkan lagi selama seminggu. Demikian pula setelah seminggu dipindahkan lagi ke lokasi ke 3 dan seterusnya sampai berada dipetak keempat dan diperam pula selama seminggu.

Pada minggu keempat kompos sudah jadi dan untuk mendapatkan bentuk yang seragam maka bisa dilakukan menyaringan atau diayak untuk memisahkannya dari kerikil atau potongan kayu dan lainnya dan selanjutnya kompos siap untuk diaplikasikan pada lahan atau tanaman.


Kesimpulan:

Pembuatan kompos tanpa dekomposer tentunya membutuhkan waktu pengomposan yang lebih lama. Dekomposer pada prinsipnya hanya sebagai pemacu mikroorganisme dalam proses pengomposan (fermentasi). Kandungan kompos matang terdiri dari 1.69% N, 0.34% P2O5, dan 2.81% K,sehingga dalam 100 kg kompos setara dengan 1.69 kg Urea, 0.34 kg SP 36, dan 2.18 kg KCl

Manfaat Pupuk Organik Dan Kompos

Seperti kita ketahui bersama fungsi dan peran pupuk bagi tanaman teramat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan baik itu jenis tanaman pang...